Ayo (Jangan) Tempur!

Pic

Kalo saya liat kata tempur, entah kenapa saya langsung bergidik. Bulu kuduk berdiri ketsayatan karena saya adalah orang yang sangat membenci kondisi dimana “ketiadaan perdamaian”. Yah, tapi saya ngerasa sebenernya kita hidup melewati banyak fase yang erat kaitannya dengan kata tempur. Kaya biasa sebelum kita lebih jauh ngomongin, saya pengen kita ngeliat definisi dari kata tempur itu sendiri melalui kamus besar bahasa indonesia (biar kita setuju akan arti kata tempur), tempur itu definisinya adalah  perkelahian yg hebat; peperangan; perjuangan: suatu ~ sengit telah terjadi lagi di dekat perbatasan; Kakek menceritakan ~ dr satu medan perang ke medan perang yg lain;.

Ya kalo kita lihat, tempur di situ menegaskan perkelahian dan peperangan yang identik dengan fisik. Sesuatu yang diperebutkan dengan musuh entah itu wilayah atau kekuasaan atau apapun namun identik dengan “adu badan”. Nah, buat saya yang sangat menghindari pertempuran fisik, saya menganggap diriku pun bisa bertempur kok. Entah itu bertempur dengan keadaan atau apapun tapi yang pasti saya yakin saya juga adalah seorang petempur (haha, bahas saya………)

Untuk berhasil menjadi Putri yang sekarang lagi nulis ini aja, saya harus ngalahin berjuta rasa takut bahwasannya menjadi yang berguna itu butuh inisiatif dan berbagai macam kemampuan, jadi udah jelas saya berhasil memenangi pertempuran “adu rasa takutt” hehehehe. Kedua, untuk bisa mencapai semua prestasi yang pernah saya dapatkan dari SD, kaya juara kelas dan umum, juara baca berita, juara LCT dan olimpiade, juara volley dan basket, dan apapun prestasi saya, berarti saya berhasil mengalahkan banyak orang lain dalam pertempuran yang ada. Bukan mau sombong, Cuma saya ngerasa pengen aja ngehibur diri dengan apa yang saya dapet. Bwuhahaha :D

Tapi yah, saya kok selalu ngerasa kalah, salah deh, lebih sering kalah kalau saya bertempur dengan diri sendiri. Wow, berat banget guys, seorang Putri Serindang Bulan melawan seorang putri serindang bulan. Masing-masing mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi kenapa saya selalu kalah kalo saya bertempur dengan diri saya dalam hal ini adalah  egoisme. Dalam perjuangan sebenarnya, walaupun pada kenyataannya sifat itu tidak nampak, sesekali terbesit di hati (-,-)”
                         
Kalo ada beberapa orang di luar sana yang teriak-teriak nama Tuhan tapi sambil bawa kayu dan ngerusakin fasilitas umum, saya ga percaya mereka mengerti seutuhnya kata jihad. Bertempur dengan diri sendiri menurut saya adalah jihad yang sebenarnya , Kalo kamu ngeliat sejarah dari kata jihad sendiri, yakni kata al-juhd yang berarti sesuatu yang sulit atau daya upaya yang maksimal atau mengerakan segala usaha untuk mencapai cita-cita. Ini dia, kadang saya merasa sulit untuk memaksimalkan diri yang nantinya berupaya untuk meraih cita-cita saya.

Banyak rencana yang udah saya pikirin sampe beberapa tahun ke depan, dan kayanya saya pun udah mikirin cara untuk saya mewujudkan rencana tersebut. Tapi entah kenapa, saya selalu punya penghalang (terutama) dari diri sendiri. 

Ya itu masalah bertempur dengan diri sendiri. Dan entah kenapa saya jadi mau ngebahas masalah pertempuran hati. Saya adalah orang yang berusaha mengutamakan logika dibanding hati. Jadi ketika saya disuruh memutuskan sesuatu dengan menggunakan hati, saya rada sedikit kelabakan. Kalo logiksaya bisa membuat asumsi baru untuk mematahkan asumsi lain di logiksaya. Tapi kalo udah bicara hati, saya ga tau deh. Saya ngerasa mau pake asumsi apapun itu, hati ga bisa dibohongin. Dan selalu hati punya satu jawaban yang benar.
Sekarang ini saya kayanya lagi ngerasain susahnya keluar dari pertempuran hati. Yang parah adalah saya ga tau sampe kapan ini bakal berakhir. Tapi yang lebih kacau adalah saya ga tau apa yang bakal keluar sebagai jawaban. Atau emang mungkin ini ga akan ada jawabannya..(*berfikir dengan diiringi lagu superdrag-way down here without you).



0 komentar:

Posting Komentar

Say something :)