Mengenangmu bersama gerimis


Gambar dari sini
Gerimis mengapung berpuluh-puluh bibit pohon rindu yang berbiak merambati hatiku. Menjelma sulur-sulur bewarna coklat kehitaman. Pertanda apakah ini?
Mengenangmu hujan berubah warna. Di pohon depan rumah kutemukan wajahmu tanpa ekspresi, pucat, menggigil. Tak ada sapa manis pagi ini. Jalan-jalan lembab dan dingin, yaaa Bengkulu berteman hujan beberapa hari ini. Kemana perginya rasa rindu itu? Hujankah yang membawanya kabur? Atau nadimu yang tak lagi berdenyut.

Di luar matahari masih setia dibalik awan hitam yang terlihat sinis. Aku masih mengenangmu sambil meminang-minang detik. Berapa tahun kita telah bersama? Merajang kesunyian, mengupas hidup, menanak pesan-pesan dikala kau dan aku menikmati waktu. Dimana kau kini? Telah kususuri hutan, mata air dan serpihan gelombang laut. Mungkin kau berkelebat di sana, ku tahu kau sangat menyukai air. Menghapus jejak yang kuikuti, kenapa?


Aku berhenti di makam tua. Orang-orang mengenangnya sebagai makam air mata. Disana ditanam wanita penuh cinta. Pergi dengan segumpal kebahagiaan yang menyirami seluruh pohon-pohon di pemakaman.

Masih terbayang letaknya yang kukunjungi beberapa bulan yang lalu, hingga tiba-tiba dia menyapa dalam mimpi semalam. Di sini aku mengenangmu, mengenang rambut ikalmu yang tipis dan halus ketika kau memintaku untuk menyisirnya, mencarikan rambut yang telah berubah warna itu, aku menikmati saat-saat dimana kau sembari bercerita tentang kehidupanmu, kehidupanmu yang menjadikan kau wanita berbaju besi, kuat!.
Kau tampak gairah, masih ku ingat mimik wajahmu, bersama bunga-bunga yang aku akui kau cukup gila dengan itu, entah ada berapa macam yang kau tanam dalam pot-pot dan halaman rumah, rumah bercat putih, warna kesukaanmu, dan bunga-bunga menjadi penghiasnya, cantik, sama cantiknya dengan dirimu.

Kita pernah bermain di halaman beralaskan rumput hijau dan kau alaskan kembali dengan tikar kecil yang terbuat dari daun pandan itu, masih dengan bunga-bunga yang tak kuhapal namanya, ku tahu ku tak paham bahasa bunga. Kau selalu bersemangat merangkai cerita, merajang kesunyian, mengupas hidup dan menanak pesan-pesan, dan aku selalu berbinar-binar, seharusnya kau tahu itu karena sesungguhnya kau paham bahasa bunga. Aku menatap setiap kata yang lewat, menduga-duga mana yang sekedar singgah, mana yang akan menetap. Aku harus bertahan agar mata memandang tetap. Tak luput menangkap apa saja yang menghampiri.

Hujan semakin membatu. Kutampung di tanganku. Sebelum matahari datang aku telah menelannya dengan cepat. Kubiarkan memasuki seluruh rongga tubuhku. Apakah yang kau cari sewaktu itu? Masihkah kau mengenangku? Seperti aku.

Tinggal bersamamu selama tiga tahun
Telah menggoreskan seribu kenangan di otakku
Teruntuk nenek ndut yang suka sekali dengan air :’)
Miss you so hard.




36 komentar:

  1. Hujan dan gerimis selalu menarik untuk dituliskan, hujan seperti sebuah irama untuk memainkan rindu.
    nice posting sista. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hujan itu mampu membuka kunci file2 usang di otak bang :D makasih yaaa hehe

      Hapus
  2. wew, sastra...
    kebetulan disini jg hujan, ngebacanya jd makin enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sastra ya? tidak begitu paham sebenarnya, hanya menuliskan apa yang ada di otak bro, main perasaan dikit hihihi

      Hapus
  3. Jadi ingat waktu kecil suka mandi air hujan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa bunda, sampe sekarang masih kok putri mah hihihi

      Hapus
  4. waaaw..diksinya keren!
    sy mencoba menebak siapakah gerangan 'kau' itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak :')
      lah itu di bawah aku tulis, teruntuk nenekku mbak yang udah tinggal di alam yang lain :) lagi kangen huhuhu

      Hapus
  5. Mbak, Tadi pagi di Bengkulu hujan juga yah?
    di Medan juga hujan, hehe

    Kadang hujan yg dingin itu berbanding lurus dengan kegalauan dan kerinduan ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi musim hujan bang riki ahuahuahu, teras kostan kecipratan nih, becek #abaikan
      betul, hujan okh hujan heemmm

      Hapus
  6. Tadi pagi di samarinda juga hujan loh..

    Siapakah nenek endut itu??

    Suka banget sama diksinya, apalagi hujan dan wanita sebagai pokok pikirnya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, musim hujan mbak ima :DD suka..suka..
      nenek ndut itu nenekku mbak, karena memang orangnya gitu, nduut hehehehe kami para cucu memanggilnya nenekndut, waaah makasih ya, menuangkan saja sebenarnya :') terlalu menghayati. hehe

      Hapus
  7. kapan ya ujan turun di tempat sy?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti setelah dari tempatku bun hehehe tunggu saja :')

      Hapus
  8. surat rindu buak nenek kah ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, semoga beliau baca dan ikut merasaakan :') hiahia

      Hapus
  9. nenek ndut kok suka sama air kenapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka banget pokoknya bang :D iii kalo lagi nyiram bunga ampe baju-baju basah semua, kalo mandi suka lama banget, tapi semua tinggal kenangan ahuahuahu :3

      Hapus
    2. memang cewek yg aneh hehe, sama air aja pakek kenangan segala haha

      Hapus
    3. perekam yang baik ini namanya bang ahaha :D

      Hapus
  10. mandi hujan lagiiiiiiii :D assssiiiiiiiiik
    kenangan saat bersama seseorang itulah hal yang sulit dilupakan #oppppssss -___-a

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bengkulu hujan, curup hujan, kenangan itu ikut terus mas hehehehe

      Hapus
  11. nice :D
    Saya suka tulisan-tulisannya yang indah. Menjadi motivasi bagi sy untuk tetap semangat menulis :D

    BalasHapus
  12. gerimis dan hujan selalu membuat otak memutar memori masa lalu terkadang pahit terkadang manis terkadang sepi terkadang rindu

    tapi itulah selalu membawa cerita

    BalasHapus
  13. jadi baru nyadar malang uda lama gak ujan ni duh

    BalasHapus
    Balasan
    1. okh yaaaaa? :D wah di sini hampir setiap hari, khususnya sore dan malam :D

      Hapus
  14. Artikel yang sangat menarik...!
    salam kenal dan semoga sukses :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, dan salam kenal kembali :')

      Hapus
  15. sedih juga bacanya.
    sosok nenek yang dulu bis abikin ketawa suka basah-basahan waktu nyiram bunga, kina tinggal bayangan.

    moga aja beliau juga lagi main air di surga.

    izin follow ya.

    BalasHapus
  16. Pas sekali nulis tentang hujan di November Rain
    Ada berjuta rasa di bawah tiap rintik hujan..
    :D

    BalasHapus

Say something :)