Ke Entah Berantah

Picture
Hallo gerimis, apa kabar? Saya menulis surat untukmu…
Saya sedang terjebak sekarang, diantara kerumunan manusia-manusia yang ingin cepat pulang kerumahnya, seorang ayah yang ingin berjumpa dan mengecup istri beserta anaknya, seorang ibu yang ingin menyiapkan makan malam, atau keduanya yang sekedar ingin pulang dan segera merebahkan lelah setelah beraktifitas satu hari penuh, sibuk dengan segala masalah di otaknya, begitu juga saya. Hari ini, diawal desember saya sengaja mencarimu, gerimis. Saya tidak ingin cepat pulang ke rumah. 


Gerimis, riuh sekali,  kau tau itu? Stasiun kota adalah salah satu saksi bisu bahwa ibu kota menjadi korban atas kemajuannya sendiri. Dan, always many interesting things from a trip walaupun kita tidak menikmati perjalanan kita itu. Sore ini, saya nikmati mis :))) sekalipun perjalanan ini pendek, we will face many things. Mengenakan headset dan mendengarkan beberapa deretan  lagu bandaneira, dengan volume sedang untuk berjaga-jaga. 


Gerimis, saya tidak tau harus kemana, saya belum mau pulang!. Apakah ini masih bisa disebut perjalanan? Perjalanan tanpa tujuan akan berakhir seperti apa? Bukankah sebelum melangkah, kita harus menetapkan arah yang dituju. Penetapan arah lebih penting dari kecepatan melangkah, kan?


Saya berjalan cepat ke dalam gerbong kereta, mungkin dengan begitu saya bisa dapat satu bangku. Tapi, tetap saja mahluk bernama saya sering kali kalah cepat daaaaan berdiri juga tidak mengurangi rasa nikmatku untuk perjalanan sore ini yang entah ke mana, asal denganmu mis :)).  Sekarang tujuan perjalananku tidak terlalu penting, sometimes.. kita tidak perlu mementingkan ke mana kita harus melangkah, tujuan bisa saja berubah ketika kita sedang dalam perjalanan. Dan dalam perjalanan kita berpikir kemudian menemukan.


“Yang menyenangkan salam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri – sebuah rumah yang sesungguhnya, yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun” (Live Traveler) Windy Ariestanty


Setelah surat ini saya selesaikan, saya akan melipatnya, membentuk pesawat kertas untuk kemudian saya terbangkan, atau perahu kertas? hehe mau yang mana?. Entahlah, saya tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rindu dengan segera, mungkin hanya angin yang bisa dan gerimis yang sangat dirimu sukai itu. Jika surat saya ini tidak tiba, maka semoga ada angin yang menyampaikannya padamu karena iba. Semoga hal ini kamu sadari, bahwa ada rindu yang dimulai tanpa tahu caranya untuk selesai. Mungkin kamu bisa membantunya dengan jumpa kita yang segera? 


Oh ya, saya senang sekali mendengar nelangsa ceria yang meneduhkan dari duo bandaneira ini mis, “Ke-entah-berantah”. Lagu ini saya dengar berantri satu paket dengan “rindu” dan “Di atas kapal kertas” :)) ini liriknya :::


Ke Entah Berantah


Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana
Dia bertingkah tiada bercela
Siapa kuasa 

Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana
Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa 

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya

Dia bagai suara hangat senja
Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu
Siapa kuasa 

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya



Jakarta, 2 Desember 2013

9 komentar:

Say something :)