Satu lagi, kebahagia-an (Wisuda)

Haiii, apa kabar? (ngelus ngelus keyboard *loh). Sebenarnya saya agak kaku, akhir-akhir ini saya sangat jarang bercerita dan mengabadikan beberapa kegiatan juga tentang warna-warni rasa yang sifatnya tidak real. Seperti yang saya ceritakan sebelum ini, bahwa saya menemukan otak saya sedang terasa ramai-ramainya, saya sedang berada dimasa-masa betapa tidur selama satu hingga dua jam adalah kenikmatan yang sangat perlu disyukuri, masa ketika kau akan lupa bahwa makanan yang sedang kau makan ini adalah sarapanmu, makan siang atau makan malam, masa ketika kau mulai bersenang-senang dalam sebuah ruang karaoke tiba-tiba hadir sebuah perasaan gelisah yang menghantui, pffttt tiba-tiba ingat skripsi, ingat seminar penelitian, ingat kompre, ingat tugas-tugas materikulasi dan presentasinya. Kedengaran seperti saya tidak melakukannya dengan senang hati, kadang-kadang kita selalu menganggap tantangan dan masalah yang gunanya mengubah kita menjadi lebih baik adalah sebuah beban yang memberatkan kita, bayangkan saja ketika kita menganggap tantangan itu beratnya sekitar seratus kilogram, sudah dipastikan kita akan kesusahan bukan? Bagaimana kita bisa menyelesaikan perjalanan kita dengan baik. Tantangan dan masalah adalah kesempatan, seperti misalnya yang sedang saya hadapi juga bersama teman-teman yang lain. Bergejolak, ketidakpastian yang membuat semua akhirnya menghadapi  ambiguitas. Namun sesungguhnya dalam kondisi seperti inilah kita berpikir dan berusaha, sejak kecil saya diingatkan oleh orang tua saya bahwa tak masalah tak jadi yang terbaik, tapi berikanlah selalu kemampuan yang terbaik, salah satu cara menghargai diri sendiri katanya.

Tidak ada yang pernah tahu kemana hidup akan membawa kita. rhytme langkah kaki sendiri pun demikian, melemparkan saya pada sebuah zona yang tidak biasa. Awalnya ini terasa sangat asing, complicated, dan tidak mudah untuk melebur. Segala kompleksitas itu memaparkan realita dan fakta yang terkadang masih sulit untuk saya pahami. Dengan sangat bersusah payah akhirnya saya mampu tiba di penghujung. Sebuah survive-bilitas yang penuh kebersyukuran, alhamdulillah. Ini harus dilakukan, belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan untuk orang-orang yang dibesarkan dengan kemudahan-kemudahan. Kuncinya adalah kita harus mampu menompang diri sendiri :)


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga kuliah di ISTA. Terima kasih atas kesempatan belajarnya selama tiga semester. terima kasih atas rahmat Allah, juga kepada orang tua dan para keluarga. Terima kasih kepada teman-teman angkatan kedua 2014. Terima kasih kepada pembimbing juga kaprodi saya atas jadwal bimbingannya yang mungkin menyita waktu…yaah betapa belajar semalam suntuk di kediaman bapak adalah kejadian yang tidak akan terlupakan, untuk pengertian luar biasa, ilmu, bimbingan, arahan, perhatian, dan dukungan penuhnya, terimakasih telah memperjuangkan, mempermudah, dan memahami seluk beluk kecemasan saya.
Terima kasih atas seluruh dukungan teman-teman juga kepada orang-orang yang tanpa sepengetahuan saya turut andil dalam hidup saya hingga saya menjadi seperti sekarang ini.
Mohon doa untuk perjalanan selanjutnya
………………
Salam :)

7 komentar:

  1. Selamat yaa yang barusan wisuda
    semoga jalan kedepan semakin baik
    sukses buat kamu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih :)
      aamiin allahumma aamiin, untukmu juga kak :)

      Hapus
  2. alhamdulillah... dan sepertinya kamu menyusul aku wisuda.. do'akan aku ya semoga jalannya dipermudah.. dan lekaslah ke Banduuung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya bupittt ^^
      Aamiin yaRabb berkat doamu juga pada akhirnya, doaku selalu siap lepas landas juga rinduku ke langit bandung bupitkuu ({})

      Hapus

Say something :)