PINDAH

Pic

Dia terus saja bernyanyi saat menata buku-buku yang masih tersisa satu kardus, pertanda “pindah”, beberapa pakaian, lemari baru, tempat tidur baru, meja dan beberapa perlengkapan. Dia juga memasang sebuah cermin untuk mematut diri.

Di pagi yang dini, dia menaiki tangga menuju lantai tiga, menunggu matahari terbit dan membuatnya berpikir perihal “pindah”. Sekali lagi, dia harus berlama-lama di kota yang banyak diperbincangkan orang-orang. Pindah adalah hal yang manusia akrabi. Kita melakukan perpindahan sekecil apa pun itu. Manusia melakukan perpindahan untuk menemukan kecocokan, belajar terbiasa, dan bisa juga karena terpaksa sebab hanya itu yang harus dia lakukan untuk bertahan hidup. Di pelajaran sejarah atau antropologi, kita mengenal bahwa salah satu ciri-ciri kehidupan purba adalah nomaden, tidak menetap. 

Sesekali dia merasa cemas dengan banyak hal, mulai dari tetangga, kenyamanan, keamanan, listrik, air, sampah hingga akses menuju tempatnya menghabiskan waktu kurang lebih setahun ke depan. Namun sepertinya dia percaya, bahwa merasa cemas itu baik. Merasa takut itu perlu. Semakin dia merasa gentar, semakin dia mendorong diri untuk menghajar. Orang-orang harus yakin kalau bisa melampauinya, berarti dia sudah melakukan satu gebrakan lagi dalam hidup. Bukankah sebuah gebrakan di dalam hidup tak mesti sangat besar? cukup dengan melakukan apa yang mulanya kita pikir  tidak bisa. Berpindah posisi dari tidak bisa menjadi bisa.

Suara-suara dari jalanan disekitar kamar sewaannya di lantai dua menyelusup ke dalam ruangan tempatnya menghabiskan waktu sejak sehari. Ada klakson mobil, suara tukang sayur dan derit gerobaknya serta ibu-ibu yang bertransaksi, gonggongan anjing dan kicau burung empunya kos-kosan, suara anak kecil usia lima tahunan yang bermain air di selokan, deru knalpot bocor yang terdengar menjauh, sesekali alunan musik senar klasik khas tiongkok  dan dua orang di lantai dasar yang sepertinya sedang mendebatkan sesuatu menggunakan bahasa mandarin.

Tidak jauh dari tempat itu, cahaya matahari mulai membaca kota yang menemui ritme ekonominya.  Jalanan mulai ramai, mesin kereta bergemuruh, orang-orang berlari dan saling dorong di halte transjakarta juga kopaja, lelaki yang gusar dan marah sebab kehidupan mulai ramai dan waktu terus berjalan lantas klakson mobil berteriak .. bersahutan. Di warteg, beberapa pekerja  bercerita perihal negara yang tak dapat bergerak berdasarkan dorongan individu, bahwa untuk menginginkan perubahan, seseorang butuh kekuatan dan kuasa selanjutnya berpikir bagaimana caranya mengorganisasikan diri sebab sehari-hari bekerja, pulang, buka facebook, komen sana sini, rebahan di kasur, buka instagram, path, komen lagi, sebelum akhirnya berkicau ditwitter tentang carut marut kota dan politik yang panas dan kemudian tidur dengan beban dan mimpi gelisah.  Kota mengalami proses di mana ruang dan waktu seperti berjalan sendiri-sendiri. Tak saling mengisi.

Di bangku depan metromini, seorang lelaki takjub sebab disore yang cerah dapat melihat matahari membentuk kuning telur diantara gedung dan pohon-pohon sekitaran Thamrin, sebetulnya tak kuning, warnanya orange pekat berpendar, rasa-rasanya bulatan itu tak sepanas yang dibayangkan. Disebelahnya, perempuan yang juga menikmati hal yang sama berharap pengamen dan gitarnya melantunkan lagu banda neira “senja di Jakarta” atau Float  “pulang”. Di bangku paling belakang, sesak dengan rindu dan telinga tertutup earphone serta headset.

Banyak orang-orang menikmati bahagianya dengan sederhana, dunia yang semakin tua menjadi semakin kompleks ini kemudian mulai mengajarkan tentang sebuah pemahaman, relativitas yang menyangkal segala hal yang pasti tentang apapun yang ada di dunia ini. Entah itu ratusan teori aneh para ahli fisika, maupun jutaan rumus menakutkan milik ahli kimia dan matematika. Banyak hal menarik di dunia ini. Tapi ketika menarik satu hal yang ‘paling menarik’, kita akan menemukan opini yang beragam. Sebab segalanya adalah perihal “bagaimana kita menjalani hidup”.


Pindah adalah upaya untuk tahu apakah dia telah menemukan sesuatu yang lebih baik, dan bagaimanapun kota yang telah didiaminya selama setahun ini menyimpan banyak warna dan mengenalkannya banyak hal, termasuk jatuh cinta.

5 komentar:

  1. ujung2nya jatuh cinta. hehehe
    nanti kalo putus cinta move ke tempat lain lagi ya.. itu juga kan pindah :D

    BalasHapus
  2. mampir sebentar mba,,hehehehe

    BalasHapus
  3. kesasar trus comment, jgn lupa berkunjung di blog saya ya

    BalasHapus
  4. Jadi..., sudah pindah kah? :')

    BalasHapus

Say something :)