Fast Traveler Part 1 : Farm House Susu Lembang Bandung

Halluw,
Ahhh pasti akan jadi sangat membosankan tiap kali opening cerita selalu diawali dengan kata-kata klise seseorang yang lama tak mengisi blognya ^^;.
Baiklah setelah setahun hiatus, rasanya agak bingung mau mulai darimana,  jadilah saya akan cerita tentang beberapa perjalanan keluar kota bersama teman-teman profesi, judulnya gaya. Tak perlu jauh-jauh memutar mesin waktu, kan, sebab perjalanan yang baru diakhiri dua hari yang lalu masih begitu lekat diingatan.

Oh, iya. Sebenarnya sudah sejak lama kami merencanakan untuk liburan barang beberapa hari di kota Bandung, sebelum akhirnya pulang ke daerah masing-masing untuk menghabiskan waktu hingga kami benar-benar menyelesaikan pendidikan profesi di Jakarta.

Sudah seminggu, sejak hari pengumuman kelulusan ujian komprehensif diumumkan. Kampus sudah ramai dengan obrolan seputar agenda sumpah Apoteker, tentang seragam yang akan dikenakan, tentang buku alumni dan tahunan, tentang teman yang nampak girang karena tak sabar kembali ke daerahnya sedang yang lain memilih menetap, tentang passion, tentang harapan-harapan dan tanggung jawab profesi di lapangan, tentang dugaan-dugaan perihal kemana rhytme langkah kaki melemparkan diri, dan tentu pada akhirnya tentang survive-bilitas yang penuh dengan kebersyukuran. Bersamaan dengan itu, beberapa teman telah lebih dulu meninggalkan Jakarta, kemudian saling menyusul. Ahhh, rasanya setahun menjadi sangat singkat. (kemudian teringat dengan teori waktu yang ditulis oleh Douwe dalam bukunya yang berjudul why life speeds up as you get older).

***

Senin, 28 maret 2016. Pukul 05:00 WIB. Saya bersama empat teman perempuan berangkat dari Jakarta menuju Bandung menggunakan jasa travel door to door yang sudah di booking sehari sebelumnya. Menurut schedule awal, harusnya kami menggunakan jasa bus atau kereta saja, mengingat to do list berada dihari-hari kritis mahasiwa haha. Everything become easier berkat kebaikan pihak travel, sebut saja Pak Edu (driver kami hari itu) pribadi yang hangat, menyenangkan, ramah dan santun. Dalam obrolan sepanjang perjalanan, akhirnya Pak Edu menawarkan untuk menemani perjalanan hari ini menyusuri Lembang, tentu dengan transaksi yang disepakati. Semuanya sudah dipertimbangkan, Pak Edu berbaik hati membuat perjalanan kami menjadi lebih efisien dan tetap tak kalah seruh walau tak jadi angkoters.

Salah satu hal yang membahagiakan saat  berlibur diweekday adalah perjalanan menjadi begitu lancar, apalagi memulai semuanya sejak subuh. Perjalanan Jakarta-Bandung yang biasa saya habiskan bisa mencapai 5-6 jam, belum lagi padatnya kendaraan yang keluar-masuk kota Bandung lewat jalur Subang. Hari itu hanya memakan waktu 3 jam, yipiiiieee menghirup udara pagi di Lembang, alangkah senangnya. Pukul 08:40 WIB, tibalah kita di destinasi pertama, Farmhouse Susu Lembang Bandung. Farmhouse menyajikan  miniatur pemandangan alam pedesaan, suasananya sedikit terkesan seperti di salah satu lingkungan Eropa terutama kota-kota di Perancis dengan tatanan bangunan klasik yang terkesan hangat dengan bunga-bunga cantik hampir disetiap sudut bangunan.

FYI. Farmhouse Lembang terletak di Jalan Raya Lembang No. 108 (di pinggir jalan terdapat tulisan Farmhouse Susu Lembang). Jam Operasional 09.00-21.00 WIB (weekday) dan pukul 09.00-22.00 WIB (weekend). Harga tiket masuk  (Maret 2016) Rp 20.000,-/orang. Harga makanan di Restoran Rp 25.000 – Rp 150.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu). Tiket Parkir  Rp 10.000,- (mobil) dan Rp 5.000,- (motor).


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya gerbang  dibuka. Beberapa kendaraan sudah berbaris rapi mengantri. Terbayang kalau saja mengunjungi tempat ini saat weekend. Setelah beberapa meter melintasi gerbang, kita akan disambut dengan petugas yang mengarahkan kendaraan, sejenak kemudian petugas tiket akan menghampiri, di sini kita harus membeli tiket masuk dan bayar parkir kendaraan. Tiket masuk seharga Rp. 20.000/orang ini selanjutnya dapat ditukarkan dengan susu atau sosis bakar, silahkan memilih.

Uwalaaaa....can you see that? Voucher bisa ditukar susu atau sosis bakar.
(Foto Koleksi Pribadi)

Ruth? Liat kamera, sini!.
Tanpa menjawab, jadilah begini setelahnya haha.
(Foto Koleksi Pribadi)


Susu segar, susu sehat. Ada banyak varian rasa, namun sayangnya tidak disediakan susu hangat. Jadi kalau saja cuaca dihari kita berkunjung kemudian hujan, kebanyakan akan memilih sosis bakar (mungkin).
(Foto Koleksi Pribadi)
Sambil menikmati susu dan udara segar, saya dan teman-teman berjalan pelan mengikuti petunjuk arah In/masuk. Kami menyusuri sebuah jalur yang telah di desain sedemikian rupa dengan banyak tempat duduk di sampingnya, sehingga ada banyak tempat untuk beristirahat sejenak. Di ujung jalur terdapat  sebuah rumah/toko kecil yang menjual berbagai handycraft, di depannya terdapat hiasan sepeda tua, kontras dengan lingkungan sekitar yang didominasi warna hijau. Oyah, di toko handycraft ini, kita bisa membeli gembok lucu untuk kemudian dikaitkan pada kumpulan gembok-gembok lainnya seperti pada jembatan Pont De Arts Perancis hihi, kabarnya jembatan yang terkenal seantero dunia ini sudah kelebihan muatan gembok sehingga kota ini akhirnya menghentikan kegiatan menggembok cinta sepasang kekasih, well gembok di Farmhouse juga boleh.

Salah satu pintu menuju  toko kecil yang menjual berbagai macam handycraft lucu dan lokasi gembok cinta. gambarnya seperti di bawah ini.
(Foto Kolesi Pribadi)



Gembok cinta.
(Foto Koleksi Pribadi)
Toko kecil yang menjual jajanan di samping jalan menuju gembok cinta.
(Foto Koleksi Pribadi)
Setelah lanjut dari toko handycraft dan gembok cinta, kita dapat melihat gedung yang menjual berbagai oleh-oleh, kita juga dapat menemukan gerai jus segar yang menyehatkan. Di lantai dua gerai Jus terdapat spot untuk sesi foto pre-wed, untuk saat ini ruang ini masih di buka untuk umum, disini kita bisa mengenakan kostum ala gadis eropa seharga Rp. 50.000/2 jam. Dibagian lain terdapat juga beberapa resto dan beberapa spot penjual makanan lainnya beserta handycraft yang lucu dan menarik.

Gedung yang menjual berbagai oleh-oleh.
(Foto Koleksi Pribadi)
Di lantai dua juice bar merupakan spot untuk sesi foto pre-wed dan menyewa kostum gadis Eropa.
(Foto Koleksi Pribadi)

Ayayeeee berhasil menangkap momen hangat keluarga yang bersiap selfie di teras juice bar. How sweet, *kemudian rindu keluarga di rumah*
(Foto Koleksi Pribadi)
Bangunan salah satu resto. Saya jadi ingat konsep bangunan yang ada di Floating Market. Mirip.
(Foto Koleksi Pribadi)
Call it vintage, shabby chic or cottage. I love it! 
(Foto Koleksi Pribadi)
Suasana yang terkesan seperti di salah satu lingkungan eropa.
(Foto Koleksi Pribadi)
 Bangunan klasik yang terkesan hangat dengan bunga-bunga cantik hampir disetiap sudut bangunan.
(Foto Koleksi Pribadi)
Ada yang ingin mencicip ice cream? Silahkan.
(Foto Koleksi Pribadi)
Untuk para kiddo terdapat beberapa kandang burung dan fauna lainnya di samping kiri ruang penukaran tiket dengan susu/sosis bakar. Di sana terdapat beberapa hewan lucu seperti kelinci, iguana, landak, sugar glyder, angsa, burung, dan shaun the sheep menjadi begitu menggemaskan. Kita diperbolehkan meminta petugas jaga untuk mengeluarkan hewan agar kita bisa mengajak salah satunya untuk main bersama.

Farmhouse bisa menjadi destinasi wisata yang edukatif untuk para kiddo.
(Foto Koleksi Pribadi)

Salah satu sudut yang mengusung konsep dengan gaya cowboy dan Indian.
(Foto Koleksi Pribadi)



Finally, bertemu juga dengan bangunan mirip rumah Bilbo Baggins di film The Hobbit, rumah  para Hobbit yang mungil berbahan kayu ini akan mengobati kerinduan akan Hobbiton di New Zealand. Keren.

Tak terasa, hampir menghabiskan 2 jam lebih di farmhouse, matahari kian terik. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, masih di sekitaran lembang.
Cekidot, dadaaaa :))

1 komentar:

Say something :)